Perjalanan menuju Wae Rebo memang membutuhkan usaha. Setelah menempuh perjalanan darat menuju kawasan Denge, pengunjung masih harus berjalan kaki melewati jalur pegunungan sebelum akhirnya melihat tujuh Mbaru Niang berdiri di tengah lanskap hijau.
Setelah perjalanan seperti itu, rasanya wajar jika ingin membawa sesuatu sebagai kenang-kenangan. Untungnya, oleh-oleh dari Wae Rebo yang bisa dibawa pulang tidak hanya berupa benda dekoratif.
Banyak produk berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari kopi yang berasal dari kebun warga, kain tenun buatan perempuan Wae Rebo, selendang, topi, kerajinan kecil, hingga produk pangan olahan.
Pemerintah Kabupaten Manggarai bahkan pernah mendokumentasikan pembelian kain, selendang, topi, dan kopi khas sebagai kerajinan serta produk lokal warga Wae Rebo.
Membeli produk tersebut juga punya arti lebih besar daripada sekadar belanja. Dalam sistem pariwisata berbasis komunitas Wae Rebo, penjualan kerajinan dan pangan lokal menjadi salah satu cara masyrakat memperoleh manfaat ekonomi dari kedatangan wisatawan.
Lalu, apa saja yang menarik untuk dibawa pulang?
1. Kopi Wae Rebo, Oleh-Oleh yang Paling Mudah Dinikmati
Kalau hanya ingin memilih satu produk, kopi Wae Rebo menjadi pilihan yang sulit dilewatkan.
Kopi memang mempunyai hubungan erat dengan kehidupan warga.
Portal resmi Indonesia Travel menyebut pengunjung dapat menikmati kopi lokal yang ditanam di kawasan Wae Rebo, sementara berbagai penelitian mengenai pariwisata berbasis masyarakat mencatat kopi sebagai salah satu produk yang dikemas dan dijual kepada wisatawan.
Menariknya, pengolahan kopi juga menjadi bagian dari pengalaman lokal. Penelitian tentang Community-Based Tourism di Wae Rebo mencatat adanya kelompok kopi yang melibatkan perempuan dalam proses menyangrai, menumbuk, dan mengemas kopi agar kualitas produk lebih konsisten.
Karena bentuknya relatif praktis, kopi juga cukup mudah dibawa dalam perjalanan.
Jika menemukan pilihan antara bubuk dan biji kopi, sesuaikan dengan kebiasaan di rumah. Biji kopi cocok untuk yang memiliki grinder, sementara bubuk lebih praktis untuk langsung diseduh.
Yang membuatnya menarik bukan cuma rasa. Membawa kopi dari Wae Rebo berarti membawa pulang sebuah produk yang benar-benar terhubung dengan kebun dan kehidupan ekonomi masyarakat pegunungan Flores.
2. Kain Tenun, Oleh-Oleh dengan Nilai Budaya Tinggi
Pilihan berikutnya adalah kain tenun Manggarai yang dibuat oleh perempuan setempat.
Aktivitas menenun merupakan bagian dari kehidupan perempuan Wae Rebo. Dokumentasi mengenai pemberdayaan perempuan di kampung ini menyebut kegiatan menenun kain Songke dan kain Surak sebagai salah satu keterampilan yang telah lama dikerjakan warga.
Pemerintah Kabupaten Manggarai juga mencatat kain sebagai salah satu kerajinan yang dijual oleh ibu-ibu Wae Rebo kepada pengunjung.
Dibanding suvenir produksi massal, kain tenun mempunyai cerita yang jauh lebih kuat.
Pengerjaannya membutuhkan keterampilan, waktu, dan ketelitian. Motif serta tekniknya juga berhubungan dengan tradisi tekstil Manggarai yang lebih luas.
Kain bisa digunakan sebagai sarung, pelengkap busana, pajangan interior, atau disimpan sebagai koleksi perjalanan. Karena dibuat secara manual, jangan terlalu berharap semua kain mempunyai motif, ukuran, atau warna yang seragam.
Justru ketidaksamaan kecil itulah yang membuat kerajinann tangan terasa lebih personal.
3. Selendang, Pilihan Tenun yang Lebih Ringkas
Jika kain berukuran besar terasa terlalu berat atau anggaran terbatas, selendang bisa menjadi alternatif.
Keberadaan selendang sebagai produk kerajinan Wae Rebo juga pernah dicatat secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai.
Pada kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2021, produk yang dibeli dari perempuan Wae Rebo mencakup kain, selendang, topi, dan kopi khas.
Selendang punya keuntungan dari sisi kepraktisan.
Ukurannya lebih kecil sehingga mudah dimasukkan ke dalam ransel. Setelah pulang, benda ini juga cukup fleksibel digunakan sebagai aksesori, dekorasi, atau hadiah.
Bagi wisatawan yang ingin membawa oleh-oleh bernuansa tekstil tanpa membeli kain berukuran besar, selendang menjadi pilihan yang masuk akal.
Jika membeli langsung dari pembuatnya, coba tanyakan bagaimana kain tersebut dibuat atau berapa lama proses pengerjaannya. Percakapan sederhana seperti ini sering membuat benda yang dibawa pulang memiliki cerita lebih menarik.
4. Topi dan Kerajinan Tangan Lokal
Selain tekstil, wisatawan juga dapat menemukan topi dan berbagai kerajinan tangan.
Sumber Pemerintah Kabupaten Manggarai memasukkan topi dalam produk kerajinan perempuan Wae Rebo.
Sementara Indonesia Travel menganjurkan pengunjung desa wisata di kawasan Labuan Bajo dan Flores untuk membeli kerajinan tradisional, kain tenun, dan kopi lokal sebagai cara mendukung ekonomi masyarakat.
Pengembangan kerajinan di Wae Rebo juga mengalami proses inovasi.
Kajian Community-Based Tourism mencatat adanya pelatihan untuk meningkatkan produk kerajinan, termasuk penggunaan pewarna alami serta pembuatan benda kecil seperti gelang dan gantungan kunci dari benang yang diwarnai secara alami.
Produk kecil seperti ini cocok untuk wisatawan yang membutuhkan oleh-oleh dalam jumlah beberapa buah.
Bobotnya ringan, tidak memakan banyak ruang, dan bisa diberikan kepada teman atau keluarga.
Namun, stok kerajinan tidak selalu sama setiap saat. Wae Rebo bukan pusat perbelanjaan dengan produksi massal, jadi pilihan barang sangat mungkin bergantung pada apa yang sedang dibuat dan tersedia ketika Anda berkunjung.
5. Keripik Talas dan Produk Pangan Olahan
Tidak semua oleh-oleh Wae Rebo harus berupa kopi atau kain.
Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat juga mendorong warga mengolah hasil pertanian menjadi produk makanan yang lebih mudah dijual kepada wisatawan.
Portal resmi Desa Wisata Indonesia Travel menyebut pengembangan Wae Rebo mencakup produk suvenir berbasis pangan lokal berkelanjutan.
Kajian mengenai Community-Based Tourism di Wae Rebo memberikan contoh yang lebih spesifik. Masyarakat memperoleh pelatihan pengemasan pangan untuk oleh-oleh, termasuk kopi dan keripik talas, serta pengembangan kelompok kopi, tenun, dan keripik.
Keripik tentu punya karakter berbeda dari kain tenun.
Produk ini lebih cocok untuk langsung dinikmati selama perjalanan atau dibagikan kepada keluarga setelah pulang.
Karena termasuk makanan, periksa kondisi kemasan dan tanggal produksi bila tercantum. Untuk penerbangan internasional, sebaiknya cek pula aturan negara tujuan mengenai produk pangan.
Ketersediaannya juga bisa berubah, sehingga jangan menganggap keripik talas pasti selalu tersedia setiap hari.
Mengapa Membeli Langsung dari Warga Lebih Menarik?
Ada alasan bagus untuk membeli oleh-oleh langsung di Wae Rebo daripada mencari versi serupa setelah kembali ke kota.
Sistem pariwisata kampung dikembangkan dengan pendekatan Community-Based Tourism, sehingga masyarakat bukan sekadar objek yang dilihat wisatawan. Mereka ikut mengelola pelayanan sekaligus mendapatkan manfaat dari kegiatan ekonomi yang muncul.
Penelitian tersebut mencatat penjualan suvenir dan produk pangan memberi pemasukan signifikan kepada kelompok perempuan yang bergerak di bidang kopi, tenun, dan keripik.
Pada data LPBW tahun 2017 yang dikutip penelitian itu, penjualan suvenir serta pangan olahan bahkan dicatat terpisah dari pendapatan pengelolaan wisata utama.
Ada pula sistem bergiliran untuk memberikan kesempatan kepada kelompok perempuan menjual produk mereka ketika sedang bertugas melayani tamu.
Pendekatan semacam itu membuat belanja suvenir memiliki efek yang cukup langsung.
Uang yang dibelanjakan tidak hanya membeli sebuah barang, tetapi ikut masuk ke kegiatan ekonomi keluarga dan komunitas.
Jangan Hanya Mengejar Produk yang Paling Murah
Saat berbelanja di destinasi wisata, kebiasaan menawar mungkin terasa biasa.
Namun, kerajinan buatan tangan berbeda dengan barang yang diproduksi ribuan unit di pabrik. Ada waktu, bahan, keterampilan, dan tenaga yang terlibat di dalamnya.
Karena itu, pertimbangkan nilai produk sebelum menawar terlalu rendah.
Kain yang membutuhkan waktu panjang untuk ditenun tentu tidak bisa dibandingkan langsung dengan tekstil cetak yang diproduksi menggunakan mesin.
Hal serupa berlaku pada kopi. Kopi yang ditanam, dipanen, disangrai, ditumbuk, dan dikemas oleh kelompok warga mempunyai rantai produksi tersendiri.
Penelitian pariwisata Wae Rebo bahkan mencatat adanya pembagian kelompok khusus untuk menjaga proses pengolahanya dan standar produk kopi.
Bagi wisatawan, membeli lebih sedikit tetapi benar-benar buatan lokal sering menjadi pilihan yang lebih bermakna.
Siapkan Uang Tunai Sebelum Naik ke Wae Rebo
Satu tips praktis yang tidak kalah penting: bawa uang tunai secukupnya.
Wae Rebo berada di kawasan pegunungan dan harus dicapai dengan trekking. Indonesia Travel secara khusus menyarankan pengunjung membawa uang tunai karena fasilitas ATM tidak tersedia di kawasan kampung.
Jangan mengandalkan pembayaran digital sebagai satu-satunya pilihan.
Jaringan komunikasi dan metode pembayaran dapat berubah, tetapi uang tunai masih menjadi pilihan paling aman ketika bepergian menuju desa terpencil.
Anda juga tidak perlu membawa uang berlebihan. Tentukan terlebih dahulu anggaran untuk kopi, tenun, makanan, atau kerajinan sehingga belanja tetap nyaman.
Untuk kain dan kerajinan yang lebih besar, simpan dalam bagian tas yang terlindungi dari hujan karena perjalanan keluar Wae Rebo kembali dilakukan dengan berjalan kaki.
Oleh-Oleh yang Terbaik Adalah yang Punya Cerita
Pada akhirnya, daya tarik produk Wae Rebo bukan terletak pada jumlah pilihan yang sangat banyak.
Wae Rebo bukan kawasan belanja. Justru kekuatannya berada pada hubungan langsung antara produk dengan orang dan tempat asalnya.
Kopi berasal dari kehidupan perkebunan masyarakat. Tenun dibuat melalui keterampilan yang diteruskan oleh perempuan lokal. Kerajinan berkembang dari kreativitas warga, sementara pangan olahan memberi nilai tambahan pada hasil pertanian.
Indonesia Travel menyebut interaksi dengan penduduk serta mengenal kerajinan lokal sebagai bagian dari pengalaman mengunjungi Wae Rebo.
Jadi, ketika membeli sesuatu, tidak ada salahnya bertanya siapa pembuatnya atau bagaimana prosesnya.
Beberapa tahun kemudian, Anda mungkin lupa berapa harganya.
Tetapi cerita tentang secangkir kopi yang dibeli setelah mendaki ke kampung berkabut atau selendang yang ditenun seorang ibu di Wae Rebo kemungkinan jauh lebih lama tersimpan dalam ingatan.
Oleh-oleh dari Wae Rebo yang bisa dibawa pulang cukup beragam meskipun kampung ini jauh dari pusat perdagangan.
Kopi lokal menjadi pilihan paling populer, sedangkan kain tenun, selendang, topi, gelang, gantungan kunci, dan produk pangan seperti keripik talas menawarkan alternatif yang lebih beragam.
Produk-produk tersebut berkembang sebagai bagian dari ekonomi berbasis komunitas Wae Rebo. Yang paling penting, pilih produk yang memang dibuat atau diolah warga dan belilah secara wajar.
Selain mendapatkan kenang-kenangan yang lebih autentik, Anda ikut membantu manfaat pariwisata tetap berada di komunitas lokal.
Jadi, setelah selesai memotret Mbaru Niang dan menikmati suasana pegunungan, luangkan waktu melihat produk warga. Bisa jadi, benda sederhana yang Anda bawa pulang justru menjadi cerita paling berkesan dari perjalanan ke Wae Rebo.
FAQ
1. Apa oleh-oleh paling terkenal dari Wae Rebo?
Kopi lokal dan kain tenun merupakan dua pilihan yang paling kuat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Wae Rebo. Pemerintah Kabupaten Manggarai juga mencatat produk seperti selendang dan topi sebagai kerajinan yang dijual warga.
2. Apakah kopi Wae Rebo bisa dibawa pulang?
Ya. Kopi merupakan salah satu produk lokal yang diolah dan dikemas masyarakat untuk dijual kepada wisatawan.
3. Apakah ada oleh-oleh makanan dari Wae Rebo?
Ada. Program pengembangan produk lokal mencakup pangan olahan, termasuk kopi dan keripik talas yang dikemas sebagai oleh-oleh. Ketersediaannya dapat berbeda ketika berkunjung.
4. Apakah ada kerajinan kecil yang mudah dibawa?
Ada. Penelitian mengenai pengembangan produk Wae Rebo mencatat kerajinan seperti gelang dan gantungan kunci berbahan benang dengan pewarna alami.
5. Apakah perlu membawa uang tunai untuk membeli oleh-oleh?
Sebaiknya ya. Indonesia Travel menyarankan wisatawan membawa uang tunai karena ATM tidak tersedia di kawasan Wae Rebo.