Ketika mendengar Wae Rebo, kebanyakan orang langsung membayangkan tujuh Mbaru Niang yang berdiri di tengah pegunungan berkabut.
Namun, ada satu hal lain yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat kampung ini: kopi Wae Rebo dari Pegunungan Flores.
Kopi bukan sekadar minuman untuk menemani udara dingin. Bagi masyarakat Wae Rebo, tanaman ini merupakan salah satu hasil perkebunan penting sekaligus sumber penghasilan keluarga.
Kajian mengenai kehidupan masyarakat setempat mencatat bahwa warga bekerja sebagai petani kopi, padi, dan kebun serta menjual hasil seperti biji kopi ke pasar tradisional.
Menariknya, perjalanan kopi tidak berhenti di kebun. Wisatawan yang berhasil mencapai Wae Rebo juga dapat mencicipinya langsung, bahkan kopi menjadi bagian dari keramahan masyarakat kepada tamu.
Kementerian Pariwisata menyebut kopi lokal biasa disajikan kepada pengunjung untuk menciptakan suasana akrab setelah perjalanan menuju kampung.
Jadi, secangkir kopi di Wae Rebo sebenarnya menyimpan cerita yang lebih panjang daripada yang terlihat.
Kopi dan Kehidupan Masyarakat Wae Rebo
Jauh sebelum Wae Rebo populer sebagai destinasi wisata, masyarakatnya telah hidup dari pertanian dan perkebunan. Kopi kemudian berkembang menjadi salah satu komoditas penting yang memberikan pendapatan bagi keluarga.
Penelitian tentang pariwisata berbasis masyarakat di Wae Rebo menyebut penduduk memperoleh penghasilan di luar pariwisata dengan menjual kopi, kayu manis, kemiri, jahe, dan kunyit di pasar tradisional.
Peran pertanian menjadi semakin menarik ketika pariwisata berkembang. Masyarakat tidak serta-merta meninggalkan kebun untuk sepenuhnya bergantung pada wisatawan.
Penelitian ASEAN Journal on Hospitality and Tourism menunjukkan model pariwisata Wae Rebo dibangun dengan keterlibatan masyarakat dan diarahkan agar manfaat ekonominya dapat mendukung kehidupan warga serta keberlanjutan kampung.
Dengan begitu, kopi dan wisata justru dapat berjalan berdampingan.
Robusta Menjadi Bagian Penting dari Kopi Wae Rebo
Jenis yang paling sering disebut ketika membicarakan kopi Wae Rebo adalah Robusta.
Menurut Indonesia Travel, tanaman Robusta mulai ditanam di Wae Rebo sekitar 1960-an. Sumber tersebut juga menyebut sebuah kawasan perkebunan Robusta yang dilewati sebelum memasuki kampung dan menempatkan kopi sebagai salah satu komoditas utama masyarakat.
Namun, menariknya, kopi yang ditemukan di Wae Rebo ternyata tidak hanya satu jenis.
Penelitian mengenai pengembangan produk lokal Wae Rebo yang diterbitkan pada 2023 mencatat kopi Arabika, Robusta, dan jenis yang disebut Columbia sebagai bagian dari kopi lokal yang dikembangkan masyarakat.
Karena itu, lebih tepat melihat Wae Rebo sebagai kawasan perkebuan dengan variasi kopi, meskipun Robusta memiliki jejak yang cukup kuat dalam berbagai dokumentasi resmi.
Hal tersebut sekaligus membedakan kopi Wae Rebo dari kopi Flores lain seperti Bajawa yang lebih sering diasosiasikan dengan Arabika.
Mengapa Pegunungan Wae Rebo Menarik untuk Tanaman Kopi?
Kampung Wae Rebo berada di kawasan pegunungan Flores pada ketinggian sekitar 1.100–1.200 meter di atas permukaan laut. Lingkungannya dikelilingi hutan dan memiliki udara yang relatif sejuk.
Kondisi seperti ini membuat pertanian menjadi bagian yang sangat terasa dalam lanskap kampung.
Namun, perlu diingat bahwa rasa kopi tidak bisa dijelaskan hanya berdasarkan ketinggian. Varietas tanaman, kondisi tanah, pohon di sekeliling kebun, tingkat kematangan buah, cara pengeringan, penyangraian, dan metode seduh sama-sama dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Indonesia Travel menggambarkan kopi lokal Wae Rebo memiliki karakter buah dan keasaman tertentu setelah melalui pengolahan tradisional. Sumber yang sama bahkan mengaitkan karakter rasa dengan tanaman yang tumbuh berdekatan dengan kopi.
Jadi, keunikan kopi Wae Rebo tidak cukup dijelaskan dengan istilah “kopi pegunungan”. Lingkungan dan cara masyarakat mengolahnya juga ikut membentuk pengalaman minumnya.
Proses Tradisional dari Buah Kopi hingga Bubuk
Salah satu bagian menarik dari kopi Wae Rebo adalah proses pengolahanya yang masih dilakukan secara sederhana.
Indonesia Travel mendokumentasikan proses yang dimulai dari memetik buah kopi matang. Buah kemudian dicuci dan dijemur di bawah sinar matahari sekitar dua hingga tiga hari sebelum kulitnya dikupas.
Setelah kering, biji kopi disangrai lalu ditumbuk hingga menjadi bubuk.
Sumber tersebut menyebut proses tradisonal di Wae Rebo dilakukan tanpa mesin serta tidak menggunakan pupuk dan pestisida tanaman dalam praktik yang didokumentasikan.
Bagi wisatawan, melihat tahapan seperti ini memberikan pengalaman berbeda dibanding membeli kopi siap minum di kota.
Secangkir kopi yang biasanya selesai dalam beberapa menit ternyata membutuhkan perjalanan panjang: tanaman dirawat, buah dipetik, biji dijemur, disangrai, ditumbuk, lalu akhirnya diseduh.
Di sinilah kopi menjadi pintu masuk untuk mengenal keseharian warga.
Secangkir Kopi sebagai Bentuk Keramahan
Ada sesuatu yang membuat pengalaman minum kopi di Wae Rebo berbeda: tempat dan suasananya.
Setelah melakukan perjalanan menuju kampung, wisatawan dapat menikmati kopi lokal sambil berinteraksi dengan masyarakat. Indonesia Travel bahkan menyebut penyajian kopi kepada tamu sebagai bentuk penghormatan sekaligus cara menciptakan keakraban.
Pengalaman tersebut membuat nilai kopi tidak hanya berasal dari rasa.
Bayangkan duduk di kawasan Mbaru Niang pada udara pegunungan yang dingin sambil memegang secangkir kopi hangat. Di sekitar Anda terdapat rumah adat, kebun, hutan, dan masyarakat yang memang menghasilkan kopi tersebut.
Inilah contoh bagaimana produk lokal bisa menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Alih-alih wisatawan hanya membeli suvenir, mereka dapat mengetahui siapa yang menanam produk tersebut dan bagaimana komoditas itu berkaitan dengan kehidupan kampung.
Kopi Wae Rebo sebagai Produk Ekonomi Lokal
Perkembangan pariwisata membuka pasar baru bagi kopi.
Penelitian mengenai pariwisata berbasis komunitas mencatat bahwa produk seperti kopi, tenun, kerajinan, dan makanan olahan dapat dijual masyarakat kepada pengunjung.
Sistem pengelolaan wisata Wae Rebo juga dirancang dengan partisipasi warga sehingga manfaatnya tersebar melalui berbagai kelompok kegiatan.
Penelitian lain tentang pengembangan desa wisata Wae Rebo secara khusus menempatkan kopi dan kain tenun sebagai produk lokal yang memiliki potensi untuk ditingkatkan pemasarannya melalui teknologi.
Situs resmi Desa Wisata Waerebo juga menampilkan kopi khas Waerebo sebagai salah satu produk lokal kampung.
Artinya, kopi sekarang mempunyai dua jalur ekonomi.
Pertama, sebagai hasil pertanian yang dapat dibawa keluar dan dijual ke pasar. Kedua, sebagai produk bernilai tambah yang dapat langsung diperkenalkan kepada orang yang datang ke kampung.
Model kedua menarik karena cerita asal produk ikut menjadi bagian dari nilainya.
Kopi Membantu Wae Rebo Tidak Bergantung pada Pariwisata
Pariwisata memang memberikan peluang ekonomi besar, tetapi jumlah wisatawan dapat naik dan turun.
Karena itu, mempertahankan pertanian mempunyai nilai strategis bagi masyrakat Wae Rebo.
Penelitian mengenai Community-Based Tourism di kampung tersebut menekankan pentingnya ketahanan ekonomi dan mempertahankan mata pencaharian masyarakat sembari mengembangkan pariwisata.
Pendekatan ini membuat warga memiliki sumber kehidupan selain aktivitas kunjungan wisata. Kopi berada di tengah strategi tersebut.
Ketika wisatawan datang, kopi dapat diseduh, diperkenalkan, dan dijual sebagai produk lokal. Ketika kunjungan berkurang, tanaman tetap menghasilkan komoditas yang dapat dipasarkan melalui jalur lain.
Dengan kata lain, kebun bukan sekadar bagian dari pemandangan Wae Rebo.
Ia merupakan bagian dari ketahanan ekonomi kampung.
Apa yang Membuat Kopi Wae Rebo Layak Dicoba?
Jika membicarakan kopi secara teknis, tentu setiap orang mempunyai selera berbeda.
Ada yang menyukai rasa ringan dan asam, sementara yang lain memilih kopi dengan karakter kuat dan pahit. Tingkat sangrai serta metode penyeduhan juga bisa membuat kopi dari kebun yang sama terasa berbeda.
Daya tarik utama kopi Wae Rebo justru berasal dari kombinasi produk, tempat, proses, dan cerita.
Kopi ditanam di kawasan tempat masyarakat telah hidup selama beberapa generasi. Sebagian pengolahannya masih dilakukan manual, sementara hasilnya mempunyai hubungan langsung dengan ekonomi keluarga dan aktivitas wisata.
Karena itu, menikmati kopi lokal langsung di Wae Rebo memberikan pengalaman yang sulit diperoleh hanya dengan membeli sebungkus kopi di supermarket.
Anda tidak hanya mencicipi minuman.
Anda sedang mengenal sebagian kecil kehidupan di pegunungan Flores.
Membeli Kopi sebagai Oleh-Oleh dari Wae Rebo
Bagi wisatawan, kopi merupakan salah satu oleh-oleh yang cukup relevan karena produk tersebut memang berkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Kajian pariwisata Wae Rebo mencatat keberadaan kopi khas sebagai salah satu produk yang dapat ditawarkan kepada pengunjung bersama kain tenun dan kerajinan.
Pemerintah Kabupaten Manggarai juga mendokumentasikan pembelian kopi khas Wae Rebo bersama produk kerajinan lokal ketika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berkunjung pada 2021.
Jika ingin membeli, pilihan terbaik adalah mendapatkan produk langsung dari kelompok atau warga yang memang menjualnya.
Selain membawa pulang sesuatu yang benar-benar berasal dari tempat yang dikunjungi, pembelian langsung juga membuat lebih banyak nilai ekonomi bertahan di komunitas lokal.
Dan tentu saja, jangan lupa bertanya tentang kopinya.
Cerita mengenai kebun, jenis biji, atau cara menyangrai terkadang menjadi “oleh-oleh” yang jauh lebih menarik daripada kemasannya sendiri.
Mengenal kopi Wae Rebo dari Pegunungan Flores berarti melihat sebuah komoditas dari sisi yang lebih luas.
Kopi merupakan hasil kebun penting masyarakat, dengan Robusta memiliki sejarah budidaya yang terdokumentasi sejak sekitar 1960-an. Kajian lain juga mencatat keberadaan Arabika dan jenis kopi lainnya di kawasan ini.
Keistimewaan kopi Wae Rebo semakin terasa karena sebagian prosesnya masih dilakukan secara manual dan hasilnya dapat dinikmati langsung di kampung tempat tanaman tersebut tumbuh.
Jika suatu hari berkunjung ke Wae Rebo, jangan hanya mengabadikan Mbaru Niang. Duduklah sejenak, nikmati secangkir kopi lokal, ngobrol dengan warga, dan bila memungkinkan bawa pulang produk mereka.
Dari secangkir sederhana itulah cerita lain tentang kehidupan Wae Rebo bisa ditemukan.
FAQ
1. Apa itu kopi Wae Rebo?
Kopi Wae Rebo adalah kopi yang dihasilkan masyarakat di kawasan Kampung Wae Rebo, Manggarai, Flores. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan dan produk lokal penting masyarakat.
2. Kopi Wae Rebo Arabika atau Robusta?
Robusta merupakan jenis yang paling jelas terdokumentasi dalam sumber resmi dan disebut telah dibudidayakan sejak sekitar 1960-an. Penelitian 2023 juga mencatat Arabika serta jenis lain dalam produk kopi Wae Rebo.
3. Bagaimana kopi Wae Rebo diolah?
Dokumentasi Kementerian Pariwisata menyebut buah matang dipetik, dicuci, dijemur sekitar dua sampai tiga hari, dikupas, disangrai, kemudian ditumbuk menjadi bubuk secara manual.
4. Bisakah wisatawan membeli kopi Wae Rebo?
Ya. Kopi menjadi salah satu produk lokal yang dapat ditawarkan kepada wisatawan bersama tenun dan kerajinan masyarakat. Situs resmi Desa Wisata Waerebo juga menampilkan kopi khas sebagai produk lokal.
5. Apa yang membuat kopi Wae Rebo menarik?
Selain berasal dari kawasan pegunungan Flores, daya tariknya terletak pada proses tradisional, hubungan langsung dengan kehidupan petani, dan kesempatan menikmati kopi di kampung asalnya.